Wednesday, December 17, 2008


Warisan Penggerus Gula Darah-- SAMBILOTO --

Jumlah pasien diabetes mellitus di Indonesia terbanyak keenam di dunia. Dalam 20 tahun, prevalensi kencing manis yang semula hanya 1,7% melonjak menjadi 14,7%. Padahal, Indonesia kaya tanaman obat yang berfaedah meredakan kadar gula darah, seperti sambiloto Andrographis paniculata.

Keampuhan sambiloto menurunkan kadar gula darah dikenal sejak nenek moyang. Mereka meyakini kandungan zat pahit pada sambiloto menetralkan rasa manis akibat kadar gula darah tinggi. Kepercayaan itu terbukti secara empiris. Pantas bila cerita tentang khasiat ki oray-sebutan sambiloto dalam bahasa Sunda-terwariskan hingga sekarang.


Jumlah pasien diabetes mellitus di Indonesia terbanyak keenam di dunia. Dalam 20 tahun, prevalensi kencing manis yang semula hanya 1,7% melonjak menjadi 14,7%. Padahal, Indonesia kaya tanaman obat yang berfaedah meredakan kadar gula darah, seperti sambiloto Andrographis paniculata.

Keampuhan sambiloto menurunkan kadar gula darah dikenal sejak nenek moyang. Mereka meyakini kandungan zat pahit pada sambiloto menetralkan rasa manis akibat kadar gula darah tinggi. Kepercayaan itu terbukti secara empiris. Pantas bila cerita tentang khasiat ki oray-sebutan sambiloto dalam bahasa Sunda-terwariskan hingga sekarang.

Nenek moyang kita merebus segenggam daun sambiloto kering-setara 1-2 gram- dalam 3 gelas air hingga tersisa segelas. Keesokan hari air rebusan itu dikonsumsi 3 kali sehari. Dalam beberapa hari, gejala kencing manis seperti mudah haus, sering berurine, dan mata buram pun perlahan mereda.

Terbukti ilmiah
Di era modern keampuhan sambiloto menurunkan kadar gula darah bukan lagi sekadar mitos. Berbagai penelitian di tanahair membuktikan khasiat anggota famili Acanthaceae itu. Salah satunya pengujian pada tikus percobaan.

Tikus yang diuji dibagi ke dalam 5 kelompok. Kelompok I alias kontrol diberi larutan tragakan berkadar 1%. Tiga kelompok lainnya diberi sambiloto yang diekstrak dengan heksana, etilasetat, dan etanol berdosis 0,5 g/kg bb tikus. Kelompok sisanya diberi tolbutamid berdosis 0,315 g/kg bb untuk perbandingan. Tolbutamid senyawa aktif yang biasanya terkandung dalam obat diabetes di pasaran.

Sebelum percobaan tikus dipuasakan selama 18 jam, tetapi tetap minum. Satu jam setelah perlakuan, seluruh tikus diberi larutan glukosa 10% berdosis 2 g/kg bb secara oral. Kadar gula darah diukur pada 30, 60, 90, dan 150 menit setelah pemberian glukosa.

Hasil riset menunjukkan kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol mampu menurunkan kadar gula darah dari rata-rata 170,81 mg/100 ml menjadi 79,31 mg/100 ml dalam waktu 150 menit. Sedangkan tikus yang diberi sambiloto yang diekstrak dengan heksana dan etilasetat tidak menunjukkan perubahan bermakna.

Keampuhan sambiloto menurunkan glukosa darah berkat interaksi senyawa aktif yang terkandung di dalamnya. Daun sambiloto mengandung laktone yang terdiri atas deoksiandrografolida, andrografolida, neoandrografolida, 14-deoksi-11-12-didehidroandrografolida, dan homoandrografolida.

Sambiloto juga kaya flavonoid, alkana keton, aldehida, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan damar. Aneka flavonoid seperti polimetoksiflavon, andrografin, panikulin, mono-0-metilwithin, dan apigenin-7,4-dimetileter juga terdapat pada bagian akar.

Andrografolida senyawa aktif paling dominan. Berdasarkan penelitian senyawa itu berkhasiat antidiabetes. Caranya dengan meningkatkan kadar betaendorfin dalam plasma. Betaendorfin adalah neurotransmiter yang berefek analgesik alias pereda rasa sakit dan antipiretik atau penenang. Khasiatnya mengurangi tekanan psikis para pasien. Kondisi stres mengacaukan metabolisme tubuh sehingga pasien sulit mengendalikan kadar gula darah. Andrografolida juga berfaedah menurunkan aktivitas pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa nonkarbohidrat seperti piruvat dan laktat. Dengan begitu kadar gula darah pasien dapat dikendalikan.

Aman
Kandungan senyawa aktif sambiloto terbukti aman. Hasil uji toksisitas akut menunjukkan LD50 (lethal dose) sambiloto mencapai 27,5 g/kg bb. Artinya, herbal itu aman dikonsumsi karena efek toksik hanya timbul pada dosis yang sangat tinggi. Pada manusia berbobot 60 kg akan berefek racun bila mengkonsumsi lebih dari 1,65 kg.


Itulah sebabnya tahap uji klinis kini tengah ditempuh Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala. Ekstrak sambiloto berkadar andrografolida 10% diberikan kepada sejumlah pasien diabetes mellitus. Hanya saja penelitian belum tuntas karena belum memenuhi kuota yang disyaratkan dalam prosedur uji klinis.

Takila-sebutan sambiloto dalam bahasa Jawa-tak hanya ampuh bila diekstrak dengan etanol. Sambiloto yang diekstrak dengan air panas terbukti juga mampu menurunkan kadar gula darah dari rata-rata 148,81 mg/100 ml menjadi 77,1 mg/100 ml. Itu artinya khasiat sambiloto tidak berkurang meski disajikan secara tradisional dengan cara direbus.


Kerabat landep itu juga dapat disajikan dalam bentuk kemasan seperti teh celup. Satu gram sambiloto kering dihaluskan lalu masukkan ke dalam kantong teabag. Celupkan ke dalam air panas bersuhu 80-90oC selama 5 menit. Setelah dingin air seduhan sambiloto siap dikonsumsi.

Senyawa aktif andrografolida juga terbukti berfaedah melindungi hati dari 52% zat beracun alias hepatoprotektor. Aneka jenis bakteri penyebab penyakit seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Shigella dysentriae, dan Eschericia coli juga mati ketika terpapar ekstrak sambiloto.

Pada pengujian secara in vitro, air rebusan sambiloto merangsang daya fagositosis sel darah putih sehingga meningkatkan kekebalan tubuh. Andrografolida terbukti menurunkan demam yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin yang menyebabkan panas pada kelinci. Sambiloto juga berefek antiradang. (Lucia Hendriati, SSi, MSi, dosen Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya)



Sumber: www.trubusonline.co.id/

No comments:

Post a Comment